HKTI Lumajang: Swasembada Pangan Harus Menjadi Momentum Kesejahteraan Petani di Tingkat Tapak
Lumajang (lumajangsiji.com)– Menanggapi Pemerintah Pusat terkait capaian Swasembada Pangan Nasional yang bertepatan dengan momen Panen Raya hari ini, Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPC HKTI) Kabupaten Lumajang memberikan pernyataan resmi.
Hasanuddin, Ketua Bidang Pangan dan Agribisnis DPC HKTI Lumajang, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan kerja keras kolektif, namun harus diikuti dengan penguatan fundamental ekonomi di tingkat petani.
“Kami mengapresiasi keberhasilan pemerintah dalam mewujudkan Swasembada Pangan 2026. Ini adalah bukti bahwa modernisasi pertanian dan konsistensi pendampingan di lapangan membuahkan hasil,”ujar Hasanuddin dalam keterangannya di Lumajang, Rabu (7/1).
Namun, bagi HKTI Lumajang, swasembada bukan sekadar angka di atas kertas atau kecukupan stok di gudang Bulog, melainkan sejauh mana kedaulatan ini berbanding lurus dengan peningkatan nilai tukar petani (NTP),” tambahnya.
Ada tiga poin strategis yang ditekankan oleh Hasanuddin terkait momentum ini:
1. Stabilitas Harga Pasca-Panen Raya
HKTI Lumajang mendesak pemerintah untuk memastikan instrumen penyerapan hasil panen bekerja maksimal. “Jangan sampai saat kita merayakan swasembada, harga di tingkat petani justru merosot karena over-supply yang tidak terkelola. Kehadiran negara melalui penetapan harga pembelian yang adil adalah kunci,” tegasnya.
2. Optimalisasi Komoditas Unggulan Lumajang
Hasanuddin menyoroti bahwa Lumajang memiliki peran vital dalam menyokong pangan Jawa Timur. Ia mendorong agar intensifikasi pertanian tidak hanya terpaku pada padi, tetapi juga diversifikasi hortikultura dan integrasi agribisnis hilir agar petani tidak lagi hanya menjual bahan mentah.
3. Keberlanjutan Akses Produksi
Swasembada yang berkelanjutan memerlukan jaminan akses terhadap input produksi. Hasanuddin mencatat bahwa distribusi pupuk subsidi yang tepat sasaran dan ketersediaan bibit unggul bersertifikat harus tetap menjadi prioritas utama meski swasembada telah tercapai.
“Kita tidak boleh terlena dengan status swasembada hari ini. Tantangan perubahan iklim dan regenerasi petani muda adalah pekerjaan rumah besar di depan mata. HKTI Lumajang berkomitmen untuk terus menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah pusat dengan realita di sawah-sawah petani kita,” kata Hasanuddin.
Sebagai penutup, Hasanuddin mengajak seluruh stakeholder agribisnis di Lumajang untuk menjadikan tahun 2026 sebagai tahun kebangkitan industri pengolahan pangan lokal agar nilai tambah ekonomi tetap berputar di daerah.(man)
