HKTI Lumajang: Gula BUMN Naik 58%, Jangan Jadikan Petani Tumbal Statistik !
LUMAJANG (lumajang siji.com) – Dewan Pimpinan Cabang HKTI Lumajang Bidang Media sekaligus praktisi petani tebu, H. Mustafa Ainul Yakin, bereaksi keras atas klaim lonjakan produksi gula BUMN sebesar 58% pasca-merger ID Food dan PTPN. Mustafa mengingatkan bahwa angka fantastis tersebut tidak boleh menutupi realita pahit petani di akar rumput.
Kritik Tajam H. Mustafa:
- Produksi vs Kesejahteraan: “Jangan sampai perusahaan berpesta pora di atas angka, sementara petani masih berdarah-darah di lahan akibat biaya produksi yang mencekik,” tegas Mustafa.
- Dosa Transparansi: Ia menyoroti sistem rendemen yang masih menjadi “kotak hitam”. HKTI menuntut keterbukaan total di timbangan pabrik agar petani tidak terus dirugikan.
- Efisiensi Semu: Merger harus mempermudah akses pupuk dan bibit, bukan sekadar mempercantik laporan keuangan direksi di Jakarta.

Masukan Konstruktif:
- Digitalisasi Rendemen: BUMN wajib membuka data olah tebu secara real-time kepada petani.
- Keadilan Harga: Kenaikan produksi 58% harus berdampak pada kenaikan harga beli tebu rakyat.
- Kemitraan Sejati: Jadikan petani sebagai mitra strategis, bukan objek pemerasan efisiensi korporasi. “Gula nasional harus manis di lidah rakyat, tapi jangan biarkan rasanya pahit di hati petani. Kami menolak swasembada yang dibangun di atas penderitaan rakyat kecil,” tutup H. Mustafa.
