Secercah Harapan di Tengah Ancaman Tikus: Petani Karanganom Menggantungkan Asa pada HKTI Lumajang dan Pemkab
Lumajang (Lumajang siji.com) – Setiap musim tanam, petani padi di Desa Karanganom, Kecamatan Pasrujambe, Lumajang, selalu dihantui kecemasan. Bukan karena cuaca ekstrem atau harga pupuk, melainkan karena serangan hama tikus yang tak henti-hentinya menggerogoti hasil panen.
Hari ini, di tengah keluh kesah yang kian memuncak, mereka menaruh harapan besar pada sinergi antara Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Lumajang dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang.
Samsul, seorang petani yang telah puluhan tahun menggarap sawah, tak bisa menyembunyikan keputusasaannya. “Rasanya seperti menanam untuk tikus, bukan untuk kami. Sudah berapa kali kami alami gagal panen total karena tikus. Modalnya besar, tenaga habis, tapi hasilnya nol,” ujarnya dengan nada getir.
Ia menambahkan, pihaknya sudah melakukan berbagai cara agar hama tikus cepat menghilang. Namun hal itu mustahil.
“Kadang kami sudah pakai racun, tapi tikus-tikus ini seperti kebal. Mau gropyokan juga tidak maksimal kalau hanya beberapa orang,” kesalnya.
Senada dengan Samsul, Bari juga mengungkapkan keresahannya, pihaknya sudah merasa putus asa lantaran hasil panennya sudah ludes di serang hama tikus.
“Kalau begini terus, bagaimana nasib kami? Bertani ini satu-satunya mata pencaharian kami,” harapnya.
Samsul dan Bari berharap kepada HKTI dan Pemkab Lumajang untuk mengambil tindakan kongkit sehingga bisa menyelesaikan permasalahan tersebut.
“Kami cuma berharap ada solusi nyata dari pemerintah dan HKTI. Kami butuh bantuan yang langsung terasa dampaknya di sawah,” terangnya.
Harapan Petani Terhadap Sinergi HKTI dan Pemkab
Melihat kondisi ini, petani di Karanganom kini menggantungkan harapan besar pada kolaborasi yang diusung oleh HKTI Lumajang dan Pemkab Lumajang. Mereka berharap sinergi ini akan membawa perubahan signifikan dalam penanganan hama tikus.
“Kami sangat berharap HKTI dan Pemkab bisa membantu kami dengan program yang terkoordinasi dan berkelanjutan. Misalnya, memperbanyak rumah burung hantu di desa kami, karena kami tahu burung hantu sangat ampuh memakan tikus,” pinta Mardi.
“Atau mungkin bisa memfasilitasi gropyokan massal yang lebih terorganisir dan melibatkan lebih banyak pihak, bukan hanya petani Karanganom saja,” tambahnya.
Sementara itu, Siti menambahkan,”Kami juga butuh pendampingan dan pelatihan bagaimana cara mengendalikan tikus yang benar. Selama ini kami coba-coba sendiri. Semoga ada bantuan untuk perangkap yang lebih modern atau cara lain yang lebih aman untuk tanaman dan lingkungan.”Masa Depan Pertanian Karanganom di Ujung Tanduk
Ancaman hama tikus bukan hanya soal kerugian materi, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup dan semangat para petani. Jika tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin lahan-lahan pertanian di Karanganom akan semakin ditinggalkan.
Para petani di Desa Karanganom kini menanti realisasi janji dan program dari HKTI Lumajang serta Pemkab. Mereka yakin, dengan kolaborasi yang kuat dan strategi yang tepat, ancaman hama tikus bisa ditanggulangi.
Harapan mereka sederhana, bisa kembali bertani dengan tenang, melihat tanaman padi tumbuh subur, dan memanen hasilnya dengan layak untuk menghidupi keluarga.
Informasi yang di himpun media ini, bukan hanya di wilayah Desa Karanganom, Kecamatan Pasrujambe yang diserang hama tikus. Di wilayah lain juga bernasib sama, seperti di Kecamatan Kunir.
Para petani mulai kuwalahan menghadapi hawa tikus, mereka juga berharap kepada Pemkab Lumajang dan HKTI secepatnya turun tangan sehingga petani bis menikmati hasil panen yang melimpah.
